Siswa di Temanggung Jadi Korban Bullying, Nekat Bakar Sekolah

Kapolres Temanggung, AKBP Agus Puryadi, mengungkapkan bahwa R merasa sakit hati dan sering menjadi korban bullying oleh teman-teman sekelas dan guru seni. 

Ilustrasi. /Pixabay @Алесь Усцінаў

TEMANGGUNG – Peristiwa tragis terjadi di SMP Negeri 2 Pringsurat, Kabupaten Temanggung, saat seorang siswa berusia 13 tahun berinisial R nekat membakar gedung sekolahnya.

Aksi nekat ini dilakukan dengan menggunakan bom Molotov, yang menyebabkan kerusakan serius pada tiga ruangan kelas.

Penyelidikan yang dilakukan oleh Polres Temanggung akhirnya mengungkapkan motif di balik tindakan ini, di mana R mengakui bahwa rasa sakit hati dan perasaan kehilangan menjadi pemicu terjadinya kejadian tersebut.

Dalam tragedi yang mengguncang SMP Negeri 2 Pringsurat, seorang siswa berinisial R ditangkap oleh Polres Temanggung setelah melakukan pembakaran sekolah pada Selasa, 27 Juni 2023 lalu. Motif di balik aksi nekat ini terungkap setelah dilakukan penyelidikan mendalam.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Diusir Warga karena Video Kontroversial yang Jelekkan Fasilitas Desa, Netizen Geram

Kapolres Temanggung, AKBP Agus Puryadi, mengungkapkan bahwa R merasa sakit hati dan sering menjadi korban bullying oleh teman-teman sekelas dan guru seni.

Rasa sakit hati tersebut semakin bertambah ketika prakarya yang ia hasilkan hanya mendapatkan penilaian biasa-biasa saja dari guru, padahal R berharap bisa menjadi yang terbaik.

Selain itu, kekecewaan R semakin dalam karena ia tidak terpilih sebagai ketua Palang Merah Remaja (PMR) di sekolahnya.

Hal ini menjadi akumulasi dari rasa sakit hati dan perasaan subjektif R, yang diduga menjadi pemicu utama di balik aksinya yang tragis tersebut.

Dalam menjalankan aksinya, R menggunakan bom Molotov yang ia persiapkan dengan cermat. Ia mengisi botol bekas minuman dengan campuran cairan khusus yang bisa menciptakan api besar.

Baca Juga:  Rotasi di Tubuh Polri, Dankorbrimob-6 Kapolda Berganti

Setelah berhasil menguji coba di belakang rumahnya, R membuat tiga rangkaian serupa. Salah satunya diledakkan di sebelah kanan sekolah, satu dilempar, dan yang paling menghancurkan adalah yang diletakkan di ruang prakarya yang tidak terlindungi dan berisi bahan kayu dan kardus. Dalam hitungan menit, ruang prakarya tersebut luluh lantak terbakar.

 

Saat ini, R telah ditahan dan akan menghadapi konsekuensi hukum atas tindakannya. Pihak sekolah bersama aparat kepolisian sedang berupaya untuk mengatasi dampak dari kejadian ini. Langkah-langkah keamanan yang lebih ketat juga sedang dipertimbangkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.***